banyak orang bilang rumah itu tempat pulang, tapi kepercayaanku tentang ucapan itu hanur di umur tiga belas tahun.
rumah yang dulu penuh tawa sebelum tidur, kini menjadikan bentakan yang menjadi pengantar tidur. setiap hari tagihan hutang berantakan di meja makan lebih banyak daripada lauk, kini suasana makan menjadi canggung, tidak ada obrolan ataupu tawa.
bisnis toko ayah yang dibangun bertahun-thun dan pernah booming itu ternyata bangkrut hanya dalam hitungan waktu, toko yang dulu menjadi kebangaan, kini menjadi topik obrolan orang sekitar yag selalu didatangi penagih hutang.
suatu hari ayah pergi, katanya “ayah uma butuh waktu”
aku tunggu, satu minggu, satu bulan, satu tahun. dari situ anak kecil ini sadar bahwa tidak setiap orang benar-benar akan kembali.
setiap malam tangis ibu terdengar dari kamarnya, tapi suatu hari itu berhenti. senyumnya kembali, tapi bukan untukku, melainkan setiap layar ponselnya menyala.
malam itu… ibu tertidur di sofa, aku menghampiri dan melihat ponselnya, munul notifikasi dari orang yang namanya bahkan tak pernah aku tahu. “kangen, besok aku kerumah ya?” tubuhku membeku, air mata seperti jatuh sendirinya, aku kembali ke kamar tanpa bisa tertidur, isi kepala ku penuh tanda tanya.
setelah memberanikan diri, aku bertanya tentang itu pada ibu, rahangnya mengeras, tubuhnya lebih tegang. “kamu masih anak kecil, belum mengerti, tidak usah menanya” ucapan itu membuatku refleks diam “tidak mengerti ya..?”
terkadang aku kembali berpikir, mengapa orang dewasa selalu bilang kita tidak mengerti? nyatanya mereka seringkali lebih banyak tahu.
di seolah aku disuruh menulis surat untuk orangtua, teman lain bersemangat, namun aku? aku tidak tahu apa yang harus ditulis, aku bahkan lupa bagaimana rasanya tertawa bersama mereka. tapi begitulah anak yang rumahnya suram, mereka pintar menulis hal-hal manis lebih baik daripada yang benar-benar cemara.
siang itu aku pulang, melihat sendal pria didepan pintu, dan suara tawa ibu dan pria asing terdengar dari dalam. aku masuk, “oh..sudah pulang” tidak ada lagi sambutan hangat dari ibu, mataku dan pria itu bertemu sepersekian detik.
mataku menatapnya dengan jijik tanpa sadar, tidak menyapa, tidak peduli juga. aku masuk ke kamar, menutup pintu dan menangis tanpa suara, karena dirumah ini tangis sudah seperti bising.
diluar masih terdengar suara mereka yang tertawa, dan dua gelas yang beradu, dari yang kudengar nama nya Rian..
besoknya, aku terbangun, melihat mie instan di meja makan, dengan tulisan tangan nya “ibu sibuk, masak sendiri” tanpa kata lain, singkat dan jelas.
tidak ada lagi yang memasak sambil tertawa, tidak ada yang mengacak-acak rambutku setiap pagi, aku mulai memasak.
di sekolah, “nana, pinjam pensil ya?” tanya kelly. “ya, ambil saja”
“ada apa? kamu terlihat pucat.” aku menggeleng pelan, sambil berkata “tidak apa-apa”kata yang selalu diuapkan dalam situasi apapun.
dirumah, aku melihat sosok pria itu lagi. “ga ada capeknya ke rumah ni, kayak yang gapunya rumah aja” sambil berjaan ke kamar, tapi cukup keras untuk didengarnya. dia tidak merespon, tapi jelas tersinggung.
sore hari, ada yang mengetuk pintu, ibu. “na, makan” “belum lapar.” aku menolak keluar, jijik dengan orang asing disana.
“nyusahin banget sih” aku sedikit tersentak dengan ucapan ibu ke si Rian-Rian itu, aku kembali terpikir. nyusahin? sejak hubungan keluarga hancur, apa-apa aku lakukan sendir, mencuci, masak, dan aku masih nyusahin? kalau gitu kenapa ibu milih lahirin aku?
sedangkan pria itu hanya tertawa, seolah dia setuju, aku jadi semakin jijik, dia hanya orang asing tapi berani begitu, dan ibu hanya diam.
keesokan harinya, aku memilih untuk pulang jalan kaki daripada menaiki angkot. tapi dijalan aku melihat punggung yang tidak asing… namun lebih bungkuk sedang menaikkan galon ke mobil pickup.
dia berbalik ke belakang, sosok yang aku kenal dengan sedikit janggut sekarang. “ayah…?” akusudah berhenti berharap, tapi jauh didalam hati, aku masih sangat rindu..sangat.
“na… apa kabar?’ panggilan dengan nada lembut seperti biasa, “baik… atau bahkan buruk. ayah kenapa pergi, yah..?
dia membeku, mata nya penuh kesedihan dan penyesalan meski mencoba ditutupi, “ayah udah bangkrut, na… hutang dimana-mana, ayah gamau bebanin kamu sama ibu”
“kita bisa hadapin bareng, yah…kenapa harus pergi..?” aku tanpa sadar memunculkan harapan lagi.
“ayah malu..ayah udah kaya pengecut, ayah gabisa pertahanin toko.” perkataan nya memang benar,dia memang pengecut,tapi bagaimanapun dia ayahku, dan aku mencintainya.
“hari ini ayah boleh traktir kamu?” aku mengangguk, kebetulan perutku juga keroncongan.
ayah lalu bberjalan menuju warung nasi padang dekat sana, kami memesan menu yang dulu selalu dipesan bersama. suasana saat itu canggung tapi hangat,ayah lalumemecahkan keheningan “kamu udah besar ya? gimana kabar ibu?”
aku sedikit bingung apa yang harus aku katakan? ibu dekat dengan pria sialan itu? tapi akhirnya jawaban yang melenceng jauh terucap “ibu baik, ibu masih selalu rindu ayah..”
“begitu ya? titipin salam ya? ayah bakal balik kalau sudah cukup untuk kalian” ucapan itu… membuatku sakit, dan sedikit kecewa pada ibu.
lalu kami akhirnya selesai makan, aku hendak pulang “hati-hati dijalan.. maaf ayah gabisa antar kamu, ayah malu ketemu ibu” sambil mengaak-aak rambutku.
aku akhirnya berjalan menjauh, memikirkan pertemuan singkat itu, hangat, itu satu-satunya yang kurasa, ada banyak pertanyaan yang tidak terucap.
dirumah, pemandangan itu kembali, ibu yang tersenyum bukan untukku..kesedihan kini menguasaiku, aku masuk dan berkata “bu, kenapa ibu seepat itu sih lupa dari ayah? dan malah dekat dengan pria sampah ini?” jawaban nya sudah tertebak “kamu anak ke