Terkadang, cinta itu membawa kebahagiaan sekaligus jalan yang benar.

Senja, seorang wanita dari keluarga…sederhana atau lebih. hari itu, dia berada di sebuah club, bersama teman nya, Della.

musik yang keras dan lampu berkelip-kelip yang menyenangkan, mungkin. terkadang dia sadar, apa guna nya? tapi terkadang nafsu mengalahkkan mu lebih dulu sebelum kamu berusaha.

“Dell, gua ke toilet dulu ya?” Della tidak menjawab, anya mengangguk kecil, mungkin otak nya sudh dicuci alkohol. Senja berjalan ke toilet, seringkali pria menatap nya dengan pandangan yang menjijikan, sungguh menjijikan.

Senja berjalan lebih cepat, ingin menghindari kebisingan yang terkadang menyenangkan bagi sebagian orang. di toilet, Senja menatap wajahnya di kaca, sungguh betapa jijiknya dia pada orang di pantulan kaca itu.

tanpa sadar, dia memuul kaca itu hingga pecah, tangan nya berdarah-darah, tapi bagi nya itu sudah tidak terasa. ada sebuah gerakan refleks yang tidak dia sadari, pergelangan tangan na berdarah, Senja kehilangan kesadaran nya…

Della yang menyadari si teman nya itu lama, dalam keadaan setengah mabuk dia berjalan ke toilet dan di kagetkan dengan pemandangan darah di sekitar lengan nya.

suara ambulan memecahkan hening di jalan raya, semua mobil membuka jalan untuk  ambulan itu. sesampainya di rumah sakit, Della menangis cukup histeris, masih dalam keadaan baju yang tidak pantas.

di pagi hari, Senja mulai sadar dan melihat perban di lengan nya “masih hidup ya..?” lalu ada sautan dari samping, suara yang sangat dikenalnya “syukur kamu masih dikasih hidup, Allah masih baik. lagian ngapain sih ngikutin nafsu gila kamu itu? kalo punya masalah itu shalat, ngaji. kerjaan nya cuma nyusahin aja” Senja tidak merespon, dia tahu dia salah.

“hari ini kamu udah boleh pulang, cepet, kakak tunggu di lobby” kakak nya pergi sebelum Senja menengok sedikitpun.

di mobil itu, suami sang kakak sudah menunggu, di dalam hening, tidak ada topik dari awal hingga sampai kerumah. saat Senja turun, ibu nya langsung memeluk Senja dan berkata “astagfirlullah, zaman sekarang ada aja yang tega menculik anak gadis..” sambil sedikit berkaca-kaca.

Senja langsung melirik sang kakak, tahu itu  pasti ulahnya. Senja langsung menutupi perban di pergelangan tangan nya itu. dia menutupi fakta untuk tidak mengkhawatirkan ibunya.

“umi kaget banget pas denger kamu diculik.. allhamdulilah kamu selamat” “iya, umi. aku masuk dulu ya?” dia lalu masuk ke dalam, masih sedikit murung.

kamarnya nya masih sama, rapi, tapi dia melihat foto-foto yang terpajang didepan meja nya, foto dengan..Della.

Senja mengingat masa lalu, dimana saat dia di fitnah mencuri uang kelas, dan Della datang “lihat kan? percuma pasantren, akhirnya alah kecewa? senemg-seneng aja sma gua” sambil melempar kerudung nya.

saat itu Senja hanya berpikir bahwa Della satu-satunya yang bisa membahagiakan nya, dan itu kali pertama nya dia masuk dunia club, entah berapa kali dia kesana bersama Della, hanya untuk kesenangan sementara.

tapi, dibawah dia melihat foto lain, bersama teman lama nya, Az-zahra. dia itu, teman pertama dan terakhir yang selalu mengajak Senja untuk shalat, mengaji, dan lain nya.

tapi semenjak Senja bersama Della, mereka terpisah. Senja menyadari, sangat sadar bahwa sebenarnya dia salah, Senja mengambil foto-foto nya dengan Della, dan memasukkan ke laci.

ponselnya tiba-tiba berdering, Della. Dia bimbang sementara, tapi akhirnya memilih untuk memblokir nomor itu.

Saat Senja keluar dari kamar, semua mata tertuju padanya “cantiknya nak umi…”  karena Senja mencoba memakai  hijab nya lagi “halah, palingan  cuma sementara aja kan?” ucap kakaknya yang judes itu.

“shh.. dan kebetulan ibu punya durian kesukaaan senja, ayo makan. Andri tolong kupaskan ya”

Senja duduk di meja makan, didepan kakaknya persis. dengan sdikit gemetar, Senja memecahkan hening antara mereka “aku mau mencoba hijrah, kak..” kakaknya masih sinis “hijrah itu bukan mainan untuk dicoba, jangan setengah-setengah. kamu sanggup kakak ajarin sampai benar?” Senja ragu, takut dirinya tak mampu.

kakaknya yang sadar pertarungan internal itu lalu hendak berdiri dan pergi, tapi sebelum sepenuhnya berdiri, ada kata yang tak disangka “aku sanggup, aku mau” mendengar itu, kakaknya langsung tersenyum lebar, berseri-seri.

“oke, besok bangun shubuh, jangan telat”

Keesokan harinya,